Most Popular

Tuesday, 18 October 2016

Candi Mendut

Candi Mendut

Hasil gambar untuk candi mendut 
Candi Mendut adalah sebuah candi bercorak Buddha. Candi yang terletak di Jalan Mayor Kusen Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini, letaknya berada sekitar 3 kilometer dari candi Borobudur.7°36′17,17″LU 110°13′48,01″BT.

Masa Pembuatan
Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut. 

Arsitektur Candi
Bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam. Bangunan ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat-daya. Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Jumlah stupa-stupa kecil yang terpasang sekarang adalah 48 buah.
Tinggi bangunan adalah 26,4 meter.

Hiasan Pada Candi Mendut
Hiasan yang terdapat pada candi Mendut berupa hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa dewata gandarwa dan apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda.
Pada kedua tepi tangga terdapat relief-relief cerita Pancatantra dan jataka.
Dinding candi dihiasi relief Boddhisatwa di antaranya Awalokiteśwara, Maitreya, Wajrapāṇi dan Manjuśri. Pada dinding tubuh candi terdapat relief kalpataru, dua bidadari, Harītī (seorang yaksi yang bertobat dan lalu mengikuti Buddha) dan Āţawaka.
Di dalam induk candi terdapat arca Buddha besar berjumlah tiga: yaitu Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan (mudra) dharmacakramudra. Di depan arca Buddha terdapat relief berbentuk roda dan diapit sepasang rusa, lambang Buddha. Di sebelah kiri terdapat arca Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan sebelah kanan arca Wajrapāņi.

Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Mendut

Sunday, 11 September 2016

Curug Sanghyang Taraje

Curug Sanghyang Taraje

Hasil gambar untuk curug sanghyang taraje
Curug Sanghyang Taraje yang terletak di Kampung Kombongan, Desa Pakenjeng, Kecamatan Pamulihan. Taraje dalam bahasa sunda berarti tangga dan curug berarti air terjun. Curug ini memang tampak seperti tangga yang membentuk 2 jalur air terjun, dengan ketinggian hampir 100 meter.
Hasil gambar untuk curug sanghyang taraje
Menurut kepercayaan penduduk setempat, kono dahulu Curug Sanghyang Taraje digunakan oleh Sangkuriang sebagai tarajé (tangga) untuk naik ke langit. Sanghyang sendiri mengandung arti 'sesuatu/tempat yangg dianggap suci'. Kono zaman dulu kala, Sangkuriang akan mengambil bintang atas permintaan Dayang Sumbi. Selain "tangga" berupa air tersebut juga ada sebuah batu berbentuk tapak raksasa.

Rute Perjalanan
Anda bisa berangkat menggunakan motor dari arah Pamulihan atau dari arah Jati, Kecamatan Pakenjeng. Berjarak 3,2 km dari kecamatan atau 47 km.dari pusat kota Garut. Jika menggunakan mobil, dari Bandung langsung keluar tol Cileunyi - Nagreg - Garut. Atau bisa melalui jalur alternatif ke Jalan Cijapati keluar Leles langsung ke Garut kota. Untuk kendaraan umum bisa menggunakan elf atau bus jurusan ke Garut. Dari Garut naik elf ke Bungbulang ambil arah menuju Cisandaan dan diteruskan dengan ojek menuju lokasi air terjun. Dari pos masuk ke curug ditempuh kurang lebih 10 menitan.

Rute lain yang bisa ditempuh dari Garut ke selatan, yakni arah Cikajang, di pertigaan Cikajang belok kanan. Anda akan ke arah Kawah Papandayan kemudian belok kanan lagi kemudian ke Curug Orok (PTPN VIII). Lanjutkan perjalanan ke selatan dan belok kanan di pertigaan Pakenjeng. Di kawasan ini ada Curug Utang, Curug Sanghyang Santen, dan Curug Sanghyang Taraje.

Curug Utang dan Sanghyang Santen hanya bisa dilalui dengan berjalan menembus hutan dan turun ke jurang. Adapun ke Curug Sanghyang Taraje jalannya naik turun dan hanya bisa dilalui sepeda motor. Adapun dari Cipanas ke Sanghyang Taraje berjarak sekitar 1,5 jam dengan menggunakan roda dua.

Sumber :
https://advjourney.com/2015/03/02/curug-sanghyang-taraje-tangga-langit-di-tanah-parahyangan/
http://ngabolangngabolang.blogspot.co.id/2016/02/curug-sanghyang-taraje.html
http://www.wisatajabar.com/2016/02/pesona-keindahan-alam-tersembunyi-di.html

Thursday, 8 September 2016

Tari Gending Sriwijaya

Tari Gending Sriwijaya

Hasil gambar untuk tari gending sriwijaya
Gending Sriwijaya merupakan lagu dan tarian tradisional masyarakat Kota Palembang, Sumatera Selatan. Melodi lagu Gending Sriwijaya diperdengarkan untuk mengiringi Tari Gending Sriwijaya. Baik lagu maupun tarian ini menggambarkan keluhuran budaya, kejayaan, dan keagungan kemaharajaan Sriwijaya yang pernah berjaya mempersatukan wilayah Barat Nusantara. Lirik lagu ini juga menggambarkan kerinduan seseorang akan zaman di mana pada saat itu Sriwijaya pernah menjadi pusat studi agama Buddha di dunia.

Lirik Lagu
Berikut adalah lirik lagu Asli Gending Sriwijaya
Di kala ku merindukan keluhuran dulu kala
Kutembangkan nyanyi dari lagu Gending Sriwijaya
Dalam seni kunikmati lagi zaman bahagia
Kuciptakan kembali dari kandungan Maha Kala
Sriwijaya dengan Asrama Agung Sang Maha Guru
Tutur sabda Dharma pala Khirti Dharma Khirti
Berkumandang dari puncaknya Si guntang Maha Meru
Menaburkan tuntunan suci Gautama Buddha sakti

Tarian Gending Sriwijaya
Tarian ini digelar untuk menyambut para tamu istimewa yang bekunjung ke daerah tersebut, seperti kepala negara Republik Indonesia, menteri kabinet, kepala negara / pemerintahan negara sahabat, duta-duta besar atau yang dianggap setara dengan itu.
Untuk menyambut para tamu agung itu digelar suatu tarian tradisional yang salah satunya adalah Gending Sriwijaya, tarian ini berasal dari masa kejayaan kemaharajaan Sriwijaya di Kota Palembang yang mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, gembira dan bahagia, tulus dan terbuka terhadap tamu yang istimewa itu.
Tarian Gending Sriwijaya digelarkan 9 penari muda dan cantik-cantik yang berbusana Adat Aesan Gede, Selendang Mantri, paksangkong, Dodot dan Tanggai. Mereka merupakan penari inti yang dikawal dua penari lainnya membawa payung dan tombak. Sedang di belakang sekali adalah penyanyi Gending Sriwijaya. Namun saat ini peran penyanyi dan musik pengiring ini sudah lebih banyak digantikan tape recorder. Dalam bentuk aslinya musik pengiring ini terdiri dari gamelan dan gong. Sedang peran pengawal kadang-kadang ditiadakan, terutama apabila tarian itu dipertunjukkan dalam gedung atau panggung tertutup. Penari paling depan membawa tepak sebagai Sekapur Sirih untuk dipersembahkan kepada tamu istimewa yang datang, diiringi dua penari yang membawa pridon terbuat dari kuningan. Persembahan Sekapur Sirih ini menurut aslinya hanya dilakukan oleh putri raja, sultan, atau bangsawan. Pembawa pridon biasanya adalah sahabat akrab atau inang pengasuh sang putri. Demikianlah pula penari-penari lainnya.

Tarian yang menggambarkan kegembiraan perempuan-perempuan Palembang dalam menyambut tamu ini tidaklah seperti yang kebanyakan orang pikirkan. Lantas siapa pencipta tarian tersebut? Dalam penciptaan maha karya cukup populer ini rupanya terdapat 4 tokoh seniman yang terlibat di dalamnya. Mereka adalah Sukainah Rozak, Tina Haji Gong, Dahlan Mahiba, dan Nungtjik AR.
Pada awal penciptaannya keempat seniman di atas memiliki peran masing-masing dan saling melengkapi. Sukainah dan Tina berperan sebagai pencipta gerakan tari, Mahiba berperan menciptakan lagu, sementara Nungtjik AR merupakan seorang seniman yang menciptakan syair gending sriwijaya.
Kolaborasi istimewa dari keempat seniman tersebut rupanya mampu mengguncang nusantara hingga akhirnya karya mereka secara paten dikenal oleh masyarakat Palembang sebagai tarian khas.
Tujuan utama dalam penciptaan tarian ini sebenarnya untuk mengingatkan pada generasi penerus bahwa para pendahulu mereka merupakan bangsa yang besar serta menghormati sesama baik dalam hubungan antar manusia dengan alam semesta, maupun hubungan pada Sang Pencipta.
Dari sifat saling menghormati sebagaimana tersebut di atas kemudian mengarahkan tari gending sriwijaya berfungsi sebagai tarian persembahan selamat datang di Kota Palembang.  

Gerakan
Sebelum lebih jauh mengenal ragam gerak tarian gending sriwijaya ada baiknya kita mengetahui jumlah dan peran masing-masing penarinya.
Pada umumnya tarian ini dibawakan oleh 13 penari yang diantaranya memiliki peran khusus, adapun peran khusus para penari tersebut antara lain sbb:
  • Penari utama berjumlah satu orang berperan sebagai pembawa tepak yang di dalamnya terdapat kapur sirih.
  • Dua penari berperan sebagai pembawa perlengkapan tepak berupa peridon.
  • Enam penari berperan sebagai pendamping yang terbagi menjadi dua kelompok dan mengapit ketiga penari sebelumnya.
  • Seorang pria berperan sebagai pembawa payung.
  • Seorang berperan sebagai penyanyi lagu gending sriwijaya, dan
  • Dua orang lelaki masing-masing membawa tombak sebagai wujud pengawalan.
Ragam gerak yang terdapat dalam pertunjukan gending sriwijaya setidaknya terdapat 8 jenis. Adapun ragam tersebut yakni sebagai berikut:
Gerakan masuk
Gerakan ini merupakan gerakan awal dimana dilakukan mulai dari memasuki panggung pertunjukan. Dalam gerak masuk ini para penari telah melakukan gerakan melenggok serta memainkan kelembutan tangan-tangan mereka.


Kecubung berdiri bawah
Gerakan ini terdiri dari gerak kecubung berdiri bawah kanan dan bawah kiri dimana para penari melakukan gerakan telapak tangan saling berhadapan membentuk layaknya sebuah bunga kecubung.

Kecubung berdiri atas
Gerakan ini terdiri dari gerakan kecubung berdiri atas kanan Kecubung berdiri atas kiri, dan gerakan Ukur benang. Dalam sesi ini penari memperlihatkan gerakan kelembutan tangan yang mempesona para penonton.
Sembah Duduk
Gerakan sembah duduk merupakan wujud dari penghormatan pada para tamu dalam posisi para penari dalam keadaan duduk. Dalam gerakan ini juga terlihat gerakan kanan dan kiri sebagai ungkapan bagi seluruh tetamu yang berada di sisi kanan dan kiri.
Stupa
Dalam gerak stupa ragam gerak tarian gending sriwijaya juga mengenal stupa kanan kiri, tutur sabda, gerak borobudur dan ulur benang.

Tolak Balak
Gerak ini sedikit berbeda jika dibandingkan dengan gerakan yang llain, gerakan ini dimaksudkan untuk menolak balak dari gangguan.
Urul Benang
Gerakan ini dinamakan ulur benang atau tumpang tali karena gerakan yang dilakukan para penari seolah terlihat sedang mengulur benang.
Hormat Akhir
Gerak ini menjadi akhir dari pertunjukan tarian gending sriwijaya dimana seluruh penari bersimpuh serta memberikan hormat kepada para tamu yang mereka sambut.

Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Gending_Sriwijaya
http://www.senitari.com/2015/11/tari-gending-sriwijaya.html


Sasando

Sasando

Hasil gambar untuk sasando

Sasando adalah sebuah alat musik dawai yang dimainkan dengan dipetik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Suara sasando ada miripnya dengan alat musik dawai lainnya seperti gitar, biola, kecapi, dan harpa.
Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas kebawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.
Sasando kerap digunakan sebagai musik pengiring atau penghibur pada upacara adat maupun sebagai hobi pribadi. Mungkin masih banyak penduduk Indonesia yang kurang mengenal alat musik yang satu ini. Namun ternyata alat musik sasando ini sangat digemari oleh kalangan penikmat musik tradisional yang berasala dari Australian dan beberapa negara Eropa. Maka dari itu kita patut berbangga diri karena keragamanan budaya Indonesia dan sudah sepantasnya kita sendiri yang melestarikan budaya bangsa agar tidak punah seiring berjalannya waktu.

Cara memainkan Sasando
Cara memainkan alat musik sasando hamper mirip dengan kecapi. Tangan kiri berfungsi untuk memetik melodi dan bas, sedangkan tangan kanan digunakan untuk memainkan akor(gabungan beberapa nada tunggal). Perpaduan melodi, bas dan akor yang dapat dimainkan secara bergantian ataupun bersamaan menjadi salah sat ciri khas dari bunyi yang dihasilkan oleh sasando.

Jenis-jeis Sasando
1. Sasando gong
Sasando gong lebih dikenal di Pulau Rote, memiliki nada pentatonik, biasanya dimainkan dengan irama gong dan dinyanyikan dengan syair khas Pulau Rote. Sasando jenis ini berdawai 7 buah atau 7 nada kemudian kini berkembang menjadi 11 dawai.
2. Sasando biola
Sasando jenis biola merupakan sasando yang telah berkembang dengan nada diatonis. Bentuk sasando biola sekilas mirip sasando gong namun diameter bambunya lebih besar. Sasando jenis ini diperkirakan mulai berkembang pada abad ke-18. Disebut sasando biola karena menyerupai nada biola dengan 30 nada kemudian berkembang menjadi 32 dan 36 dawai.
3. Sasando Elektrik
Sasando elektrik umumnya memiliki 30 dawai dan merupakan pengembangan dari sasando biola yang diberi sentuhan teknologi. Sasando jenis ini diciptakan oleh Arnoldus Eden yang telah almarhum, ia merupakan seorang musisi sasando dan telah mendapat piagam penghargaan oleh Gubernur NTT tahun 2008.
 
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Sasando 
http://bogem.net/sejarah-dan-asal-usul-alat-musik-sasando.html

Teknik Anyaman

Anyaman

Hasil gambar untuk anyaman
Anyaman adalah serat yang dirangkaikan hingga membentuk benda yang kaku, biasanya untuk membuat keranjang atau perabot. Anyaman seringkali dibuat dari bahan yang berasal dari tumbuhan, namun serat plastik juga dapat digunakan. Bahan yang digunakan bisa bagian apapun dari tanaman, misalnya inti batang tebu atau rotan atau keseluruhan ketebalan tanaman, seperti misalnya dedalu. Bahan lainnya yang terkenal digunakan sebagai anyaman adalah gelagah dan bambu. Biasanya rangkanya dibuat dari bahan yang lebih kaku, setelah itu bahan yang lebih lentur digunakan untuk mengisi rangka. Anyaman bersifat ringan tapi kuat, menjadikannya cocok sebagai perabot yang sering dipindah-pindah. Anyaman sering digunakan untuk perabot di beranda dan teras
Anyaman bermaksud proses menyilangkan bahan-bahan daripada tumbuh-tumbuhan untuk dijadikan satu rumpun yang kuat dan boleh digunakan. Bahan-bahan tumbuhan yang boleh dianyam ialah lidi, rotan, akar, buluh, pandan, mengkuang, jut dan sebagainya. Bahan ini biasanya mudah dikeringkan dan lembut. 
Teknikmembuat anyaman
·  Anyaman tunggal. Teknik anyaman tunggal adalah teknik di mana bambu dianyam satu-satu (secara tunggal). Teknik ini digunakan untuk membuat benda-benda seperti saringan, tampan, cerangka, dan lain-lain.
·  Anyaman bilik. Teknik anyaman bilik adalah teknik di mana bambu dianyam secara silang berurutan (dua-dua). Teknik ini digunakan untuk membuat benda-benda seperti bilik, nyiru, dan lain-lain.
·  Anyaman teratai. Teknik anyaman teratai membuat kerajinan anyam yang dibuat memiliki bentuk akhir yang artistik dan indah. Biasanya teknik unik ini digunakan dalam membuat bilik, agar bilik terlihat lebih indah dan menarik.
·  Anyaman bunga cengkih. Teknik anyaman seperti ini dapat dijumpai pada benda-benda seperti kipas, kecempeh atau tolok, sangku, dan lain-lain.
Salah satu bentuk kerajinan anyam dari bambu yang cukup sederhana adalah kipas sate. Selain bentuknya yang sederhana sehingga mudah dibuat, bahan-bahan pembuatannya pun mudah didapat. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kipas sate ini adalah bambu, kayu, dan tali rotan. 
 
Selain bahan-bahan, persiapkan juga peralatan berikut ini:
- Gergaji
- Pisau raut
- Golok
- Paku
 
Sejarah dan Perkembangan
Anyaman merupakan seni tradisi yang tidak mempunyai pengaruh dari luar. Perkembangan Sejarah anyaman adalah sama dengan perkembangan seni tembikar. Jenis seni anyaman pada masa Neolitik kebanyakan adalah menghasilkan tali, rumah dan keperluan kehidupan. Bahan daripada akar dan rotan adalah bahan asas yang awal digunakan untuk menghasilkan anyaman. Menurut Siti Zainun dalam buku Reka bentuk kraftangan Melayu tradisi menyatakan pada zaman pemerintahan Long Yunus (1756-94) di negeri Kelantan, penggunaan anyaman digunakan oleh raja. Anyaman tersebut dipanggil ‘Tikar Raja’ yang diperbuat daripada pohon bemban.

Hasil gambar untuk anyaman

Sumber :
http://anggielibrari.blogspot.co.id/